Panduan praktis mengelola halaqoh

 

Mengelola halaqah diperlukan kesabaran yang besar, karena menghimpun banyak orang dengan berbagai problematikanya akan menghadapi aneka ragam kendala dan rintangan. Oleh karena itu mengelola halaqah perlu memperhatikan masalah-masalah yang akan meningkatkan kualitas penyelenggaraan halaqah. Berikut ini panduan praktis mengelola halaqah sebagai berikut :

I. Ketika halaqah berlangsung.

Melaksanakan agenda halaqah setiap pekan yang pokok, semaksimal mungkin dilakukan secara tertib adalah sebagai berikut:

1. Iftitah (pembukaan) bisa berupa taujih (pengarahan) dari murabbi atau sekilas info berupa analisis masalah dakwah atau kejadian-kejadian yang actual di masyarakat.

2. Infaq, kotak infaq (sunduq infaq), diedarkan di awal acara selagi konsentrasi para peserta halaqah masih penuh, karena jika diakhir acara dikhawatirkan konsentrasi sudah buyar, ada saja yang lupa atau peserta-peserta sudah telanjur bubar.

3. Tilawah dan tadabur. Hendaknya ditunjuk koordinator yang mengawasi yang dipilih dari peserta halaqah yang paling baik bacaannya. Hendaknya semua menyimak dan dilanjutkan bersama-sama mentadabburinya agar diperoleh keberkatan dan rahmat dari Allah.

4. Talaqqi madah, murabbi lalu menyampaikan materi tarbiyah untuk mutarabbi (peserta halaqah) secara disiplin dan cermat agar sasaran yang diharapkan dari materi tersebut dapat terwujud dalam diri peserta halaqah. Penyampaian materi hendaknya dilakukan sejelas mungkin agar mudah dipahami oleh peserta halaqah dengan baik.

5. Mutaba’ah/pemantauan dan diskusi

6. Ta’limat/pemberitahuan-pemberitahuan tentang rencana-rencana berikut atau info-info penting yang mendesak

7. Ikhtitam berupa do’a penutup yakni do’a rabithah atau do’a persatuan hati.

Ketika halaqah berlangsung hendaknya memperhatikan hal-hal berikut :

1. Serius dalam segala urusan, menjauhi senda gurau dan orang-orang yang banyak bergurau. Yang dimaksudkan serius dan tidak bersenda gurau tentu saja bukan berarti suasana halaqah menjadi kaku, tegang, dan gersang, melainkan tetap diwarnai keceriaan, kehangatan, kasih sayang, gurauan yang tidak melampaui batas atau berlebih-lebihan. Jadi canda ria dan gurauan hanya menjadi unsur penyela/penyeling yang menyegarkan suasana dan bukan merupakan porsi utama halaqah.

2. Berkemauan keras untuk memahami akidah Salafusshalih dari kitab-kitabnya seperti kitab Al-’Ubudiyah. Sehingga semua peserta halaqah akan terhindar dari segala bentuk penyimpangan akidah.

3. Istiqamah dalam berusaha memahami kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya dengan jalan banyak membaca, mentadabbur ayat-ayatnya, membaca buku tafsir dan ilmu tafsir, buku hadits dan ilmu hadits dan lain-lain.

4. Menjauhkan diri dari sifat ta’asub (fanatisme buta) yang membuat orang-orang yang taqlid terhadap seseorang atau golongan telah terjerumus ke dalamnya karena tidak ada manusia yang maksum (bebas dari kesalahan) kecuali Rasulullah yang dijaga Allah. Sehingga apabila ada perbedaan pendapat hendaknya dikembalikan kepada dalil-dalil yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Hanya kebenaranlah yang wajib diikuti, oleh karenanya tidak boleh menaati makhluk dalam hal maksiat pada Allah.

5. Majelis halaqah hendaknya dibersihkan dari kebusukan ghibah dan namimah terhadap seseorang atau jamaah tertentu. Adab-adab Islami haruslah diterapkan antara lain dengan tidak memburuk-burukan seseorang.

6. Melakukan Ishlah (koreksi) terhadap murabbi atau mutarabbi (peserta halaqah) secara tepat dan bijak karena tujuannya untuk mengingatkan dan bukan mengadili.

7. Tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan menetapkan skala prioritas bagi pekerjaan-pekerjaan yang akan dilaksanakan berdasarkan kadar urgensinya.

II. Pasca pertemuan halaqah

1. Bersilaturahmi kepada peserta halaqah untuk menguatkan tali persaudaraan sekaligus membantu mengamalkan apa yang sudah pernah didapatinya dari majelis halaqah.

2. Senantiasa berkomunikasi dengan peserta halaqah, menanyakan kabarnya, keadaannya agar dapat dirasakan olehnya perhatian dan persaudaraan yang diajarkan dalam halaqah. Sehingga dia memahami bahwa ikatan halaqah bukan sekadar teori dan konsep melainkan sebuah aplikasi yang harus dipraktekkan oleh setiap muslim.

3. Selalu memutabaahi perkembangan para mutarabbi dalam berinteraksi dengan nilai-nilai Islam. Sejauh mana perkembangan mereka. Apabila diketemukan kendala, perlu dicarikan jalan keluarnya. Mengapa mereka mendapatkan kendala, apa problematikanya. Mutabaah ini akan lebih baik dan mudah dikontrol bila dilakukan secara tertulis atau di tulis dalam rapotnya.

4. Senantiasa mendoakannya agar selalu mendapatkan hidayah dari Allah SWT. dan dikuatkannya dalam beramal Islam. Doa yang dilakukan secara gaib (tanpa diketahui oleh orang yang kita doakan) akan mudah terkabul.

Demikianlah panduan praktis dalam mengelola halaqah, silakan mempraktekkannya. Semoga Allah SWT. Selalu memberikan kemudahan untuk mengajak manusia ke jalan-Nya. Amin.

5 thoughts on “Panduan praktis mengelola halaqoh

  1. Jazakallahu akh,,,,
    sdikit memberikan motivasi utk kmbali menguatkan ukhuwah dgn kwan2 lq,
    Insya Alloh scepatnya ana aplikasikan di klompok an…

    Salam ukhuwah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: