Banjir….T_T

http://jawapos.com
Sewa Perahu Mahal, Evakuasi Korban Bojonegoro Sulit
LAMONGAN – Luapan air Bengawan Solo seperti perjalanan tongkat estafet. ’Amukan’ sungai terpanjang di Pulau Jawa itu kemarin melumpuhkan muaranya. Lamongan dan Gresik mendapat giliran banjir bandang.

Kerugian rakyat di Lamongan dan Gresik tak kalah parah dibanding daerah hulu seperti Solo dan Sukoharjo. Juga tak kalah menderita dibanding korban di Ngawi dan Bojonegoro.

Bahkan, di daerah muara ribuan hektare tambak jebol ’dilindas’ amukan Bengawan Solo. Di Lamongan saja, dari laporan yang baru masuk, tak kurang 496 hektare tambak rusak. “Khusus untuk tambak, kerugiannya mencapai Rp 1,3 miliar,” ujar Kabag Humas dan Protokol Lamongan Aris Wibawa.

“Tambak itu tersebar di Kecamatan Maduran, Babat, Laren, Karangbinangun, dan Glagah. Rata-rata ikan atau udang yang ada di tambak baru berumur 1-2 bulan,” tambahnya.

Di Gresik tak kalah parah. Di ujung aliran Bengawan Solo itu ratusan tambak juga rusak. Di Kecamatan Bungah tambak jebol mencapai 179 hektare, Kecamatan Dukun 250 hektare, dan Kecamatan Sidayu 150 hektare. Kerugian akibat gagal panen udang dan ikan ini diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

Banjir kiriman Bengawan Solo sebenarnya dirasakan Gresik dan Lamongan sejak empat hari lalu. Namun, baru kemarin dalam skala besar atau banjir bandang. Untungnya, hingga kemarin sore tidak ada laporan korban meninggal.

Kondisi paling parah terjadi di Kecamatan Bungah, Gresik. Sembilan belas desa terendam. Air mencapai satu setengah meter. Tak hanya tambak yang jebol. Areal persawahan juga menjadi ’lautan’. Ratusan hektare dipastikan gagal panen. Total kerugian belum bisa ditentukan.

Bila Gresik belum merinci kerugian materi, Pemkab Lamongan memperkirakan total kerugian mencapai Rp 25 miliar. Ini termasuk kerugian tambak yang mencapai Rp 1,3 miliar itu.

“Data tersebut merupakan data terakhir yang diterima dari Satlak PB Lamongan,” kata Aris Wibawa kepada Radar Bojonegoro kemarin.

Taksiran kerugian itu karena ribuan rumah yang tergenang air. Menurut dia, luapan Bengawan Solo di Lamongan telah menggenangi 4.457 rumah, 23 musala, 5 SD, 8 MI, sebuah SMP, 10 masjid, dan sebuah pondok pesantren. Selain itu, derasnya air mengakibatkan delapan rumah roboh.

Untuk lahan pertanian, kata Aris, 804 hektare tanaman padi dan 486 hektare palawija terendam. Dia menambahkan, rumah dan lahan pertanian serta tambak yang terkena banjir tersebut berada di 26 desa di Kecamatan Babat, Laren, Maduran, Glagah, Karangbinangun, dan Karanggeneng.

Sementara itu, Bupati Masfuk menyatakan, tangkis (tanggul) desa atau tangkis lama Bengawan Solo di wilayah Lamongan banyak yang jebol dan sulit dipertahankan. Karena itu, pertahanan terakhir tinggal pada tanggul negara. “Tangkis negara di wilayah Lamongan umumnya masih cukup aman. Hanya ada dua titik yang diwaspadai, yakni tangkis di Babat dan Karangbinangun. Kalau kedua titik tangkis itu jebol, air bengawan akan meluber ke Babat dan Kota Lamongan,” tuturnya.

Banjir Bojonegoro

Banjir yang melanda Bojonegoro semakin meluas. Luapan air Bengawan Solo kemarin bergerak cepat ke wilayah Kecamatan Baureno. Melubernya air ke rumah-rumah di beberapa desa di kecamatan setempat membuat warga panik. Mereka berusaha mengungsi dengan peralatan seadanya.

Upaya mengungsi sebagian warga Desa Kadungrejo, Kecamatan Baureno, justru berbuah petaka. Dua perahu yang mengangkut warga terguling. Akibatnya, satu orang dinyatakan hilang terbawa arus.

Kapolsek Baureno AKP Nurjzaeni menyatakan, korban hilang itu bernama Tuminah, 30. “Saat ini masih dicari,” katanya.

Menurut dia, kemarin siang rombongan pengungsi dari desa tersebut menggunakan perahu tembo yang ada. Mereka memilih Desa Kauman sebagai tujuan karena lokasinya masih bebas dari banjir. Ketika tinggal sekitar 700 meter dari lokasi pemberhentian, tiba-tiba angin bertiup kencang. “Akhirnya sebuah perahu yang berisi sembilan orang terbalik,” katanya.

Beruntung, lanjut dia, saat kejadian ada boat milik Korps Pasukan Katak (Kopaska) Armatim yang lewat. Perahu yang akan mengevakuasi pengungsi itu pun berusaha menyelamatkan mereka. “Namun, karena keterbatasan tenaga saat itu, Tuminah tak tertolong. Dia terseret arus dan belum ditemukan,” imbuhnya.

Selain itu, kata Nurjzaeni, ada satu lagi perahu tembo yang juga mengangkut warga Desa Kadungrejo terbalik. Namun, saat perahu terbalik, air tidak terlalu dalam sehingga penumpang bisa diselamatkan. “Meski ada yang dirawat, semua sudah baikan,” ujarnya.

Nurjzaeni menjelaskan, kemarin pihaknya sempat menemukan mayat di wilayah Desa Kalisari, Kecamatan Baureno. Setelah dievakuasi, mayat tersebut dipastikan bukan Tuminah. “Karena itu pencarian terhadap Tuminah terus kami lakukan sambil mengevakuasi warga,” tuturnya.

Sementara itu, seorang bocah kemarin tewas saat terjatuh dari getekan di Desa Bakalan, Kecamatan Kapas. Bocah itu, Nindra Setiawan, 13, pelajar SMPN 1 Kapas. Menurut informasi yang diperoleh wartawan koran ini, kejadian itu berawal saat korban bersama sepupunya bermain getekan di persawahan yang terendam air. Beberapa saat kemudian, korban terjatuh dan terseret arus. “Mayat korban kemarin petang dimakamkan,” ujar petugas Mapolsek Kapas.

Sewa Perahu Rp 1 Juta/Hari

Proses evakuasi para korban banjir di sejumlah kecamatan di Bojonegoro, termasuk Baureno, terhambat karena minimnya perahu. Kepala Desa Kalisari Arifin mengatakan, pihaknya sudah meminta bantuan perahu kepada Kodim 0813 Bojonegoro.

Namun, dia harus membayar Rp 900 ribu per hari. “Jelas kami tidak mampu membayar uang sewa perahu karet sebanyak itu,” ujarnya kepada Radar Bojonegoro kemarin (1/1).

Para relawan dari elemen masyarakat maupun parpol akhirnya harus merogok kocek pribadi. “Satu perahu sewanya Rp 50 ribu-Rp 100 ribu, bergantung jauh dan dekatnya lokasi sasaran pendistribusikan makanan dan evakuasi warga,” ujarnya. Bahkan, di Kecamatan Kanor harga sewa perahu milik warga bisa mencapai Rp 1 juta per hari.

Situasi itu disayangkan sejumlah elemen masyarakat dan relawan. Sebab, banyak warga di sejumlah desa di pinggiran Bengawan Solo yang belum menerima bantuan makanan. Bahkan, warga Desa Tanggungan, Baureno, sejak Minggu (30/12) malam lalu, sampai kemarin siang baru mendapat bantuan makanan.

Selain sewa perahu mahal, evakuasi terhambat keengganan warga pindah ke lokasi pengungsian yang lebih aman. Salah satu relawan, Qohar Mahmudi, mengungkapkan, pihaknya kesulitan mengevakuasi warga Desa Lebaksari, Baureno. “Kami sudah menyediakan perahu untuk evakuasi, tapi mereka tidak mau. Padahal, mereka sudah diserang penyakit seperti gatal-gatal dan demam,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Dandim 0813 Bojonegoro Letkol (Inf) Kup Yanto Setyono menyangkal adanya tarif khusus terkait sewa perahu. “Itu perahu bantuan. Tidak ada uang sewa. Ini murni untuk masyarakat, wong ini kan bencana,” paparnya.

Sementara itu, PP Muhammadiyah kemarin menyerahkan bantuan 15 ton beras dan mi instan. Bantuan itu diserahkan langsung oleh Ketua Umum Din Syamsuddin. Bantuan itu diterima oleh Ketua Tim Relawan Sodiq Nur Hadi di Desa/Kecamatan Sumberrejo. Hadir dalam acara itu Ketua DPD PAN Jatim yang juga bupati terpilih Suyoto.

Dari Blora, banjir di Kabupaten Blora sejak Kamis pekan lalu menyebabkan 799 hektare (ha) tanaman padi terendam. Data dinas pertanian menyebutkan, di Kecamatan Kedungtuban lahan pertanian yang tergenang air 270 ha, Kradenan (159 ha), dan Cepu (361 ha). Rata-rata tanaman padi yang terancam rusak akibat banjir berumur 2-3 bulan. “Taksiran kerugian mencapai Rp 2,7 miliar,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disperta Adi Purwanto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s