Aisyah Binti Abu Bakar Rodhiallahu ‘Anha

Wanita Cerdas Pendamping Muhammad

Kulitnya putih, berubah kemerahan saat diterpa sinar mentari. Maka kemudian wanita pemilik kulit putih ini pun dipanggil dengan al-Humairah. Ia adalah Aisyah binti Abu Bakar, istri Nabi Muhammad. Panggilan kesayangan al-Humairah, tak lain dari suaminya tercinta itu.


Dia adalah gurunya kaum laki-laki, seorang wanita yang suka kebenaran, putri dari seorang laki-laki yang suka kebenaran, yaitu Khalifah Abu Bakar dari suku Quraisy At-Taimiyyah di Makkah, ibunda kaum mukmin, istri pemimpin seluruh manusia, istri Nabi yang paling dicintai, sekaligus putri dari laki-laki yang paling dicintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ini terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim, bahwa ‘Amr bin ‘Ash Rodhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam: “Siapakah orang yang paling engkau cintai, wahai Rasulullah?” Rasul menjawab: ”’Aisyah.” ‘Amr bertanya lagi: “Kalau laki-­laki?” Rasul menjawab: “Ayahnya.

Wanita ini bukan lulusan perguruan tinggi dan juga tidak pernah belajar dari para orientalis dan dunia Barat. Ia adalah murid dan alumni madrasah kenabian dan madrasah iman. Sejak kecil ia sudah diasuh oleh seorang yang paling utama, yaitu ayahnya, Abu Bakar. Ketika menginjak dewasa ia diasuh oleh seorang nabi dan guru umat manusia, yaitu suaminya sendiri. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, terkumpullah dalam dirinya ilmu, keutamaan, dan keterangan-keterangan yang menjadi referensi manusia sampai saat ini. Teks hadits-hadits yang diriwayatkannya selalu menjadi bahan kajian di fakultas­-fakultas sastra, sebagai kalimat yang begitu tinggi nilai sastra­nya. Ucapan dan fatwanya selalu menjadi bahan kajian di fakultas-fakultas agama, sedang tindakan-tindakannya menjadi materi penting bagi setiap pengajar mata pelajaran/mata kuliah sejarah bangsa Arab dan Islam.

Pernikahan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengannya merupakan perintah langsung dari Allah ‘Azza wa jalla setelah wafatnya Khadijah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, dari ‘Aisyah Rodhiallahu ‘anha, dia berkata: “Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: ‘Aku pernah melihat engkau dalam mimpiku tiga hari berturut-turut (sebelum aku menikahimu). Ada malaikat yang datang kepadaku dengan membawa gambarmu yang ditutup dengan secarik kain sutera. Malaikat itu berkata: ‘Ini adalah istrimu’. Aku pun lalu membuka kain yang menutupi wajahmu. Ketika ternyata wanita tersebut adalah engkau (‘Aisyah), aku lalu berkata: ‘Jika mimpi ini benar dari Allah, kelak pasti akan menjadi kenyataan.”’

Aisyah masih terbilang sangat belia saat mendampingi Muhammad. Ia barulah menginjak usia sembilan tahun. Ensiklopedi Islam yang mengutip Ibnu Hisyam, menyatakan Aisyah menikah dengan Muhammad saat berusia enam tahun dengan mas kawin sebesar 400 dirham.

Tiga tahun kemudian, baru Aisyah hidup bersama dengan Muhammad setelah melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah. Namun demikian, usianya yang belia itu tak membuatnya kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan sang Nabi yang juga sahabat ayahnya, Abu Bakar as-Shidiq.

Aisyah merupakan seorang wanita yang cerdas dan memiliki ingatan yang begitu tajam. Ia mampu mengingat segala pertanyaan yang diajukan oleh umat Muhammad dan jawaban yang diberikan oleh suaminya itu kepada para penannya. Kecerdasan inilah yang kemudian menjadi salah satu titik penting ia menjadi istri tersayang Muhammad, bila dibandingkan istri lainnya setelah Khadijah. Bahkan saat maut menghampiri, Muhammad berada di pangkuan Aisyah.

Selama sakit menjelang wafat, Muhammad memang kerap berada di rumah Aisyah. Muhammad meminta izin istri lainnya untuk berada di dekat Aisyah.”Sebuah kenikmatan bagiku karena Rasulullah wafat di pangkuanku,” kata Aisyah. Pada masa-masa selanjutnya, setelah wafatnya Muhammad, Aisyah menyebarkan ilmunya kepada orang lain dalam sebuah majelis pengajaran tersendiri. Ia berkeinginan untuk menjadikan umat Islam mampu memahami ajaran agamanya dengan baik.

‘Aisyah melukiskan detik-detik terakhir dari kehidupan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut: “Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia di rumahku, pada hari giliranku, dan beliau bersandar di dadaku. Sesaat sebelum beliau wafat, ‘Abdur Rahman bin Abu Bakar (saudaraku) datang menemuiku sambil membawa siwak, kemudian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam melihat siwak tersebut, sehingga aku mengira bahwa beliau menginginkannya. Siwak itu pun aku minta, lalu kukunyah (supaya halus), kukebutkan, dan kubereskan sebaik-baiknya sehingga siap dipakai. Selanjutnya, siwak itu kuberikan kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun bersiwak dengan sebaik-baiknya, sehingga belum pernah aku melihat cara ber­siwak beliau sebaik itu. Setelah itu beliau bermaksud memberi­kannya kembali kepadaku, namun tangan beliau lemas. Aku pun mendo’akan beliau dengan do’a yang biasa diucapkan Jibril untuk beliau dan yang selalu beliau baca bila beliau sedang sakit. (Alloohumma robban naasi… dst.) Akan tetapi, saat itu beliau tidak membaca do’a tersebut, melainkan beliau mengarahkan pandangannya ke atas, lalu membaca do’a: ‘Arrofiiqol a’laa (Ya Allah, kumpulkanlah aku di surga bersama mereka yang derajatnya paling tinggi: para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan shalihin). Segala puji bagi Allah yang telah menyatukan air liurku dengan air liur beliau pada penghabisan hari beliau di dunia.5

‘Aisyah adalah seorang istri yang paling berjiwa mulia, dermawan, dan sabar dalam mengarungi kehidupan bersama Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam yang serba kekurangan, hingga pernah dalam jangka waktu yang lama di dapurnya tidak terlihat adanya api untuk pemanggangan roti atau keperluan masak lainnya. Selama itu mereka hanya makan kurma dan minum air putih.

Ketika kaum muslim telah menguasai berbagai pelosok negeri dan kekayaan datang melimpah, ‘Aisyah pernah diberi uang seratus ribu dirham. Uang itu langsung ia bagikan kepada orang-orang hingga tak tersisa sekeping pun di tangannya, padahal pada waktu itu di rumahnya tidak ada apa-apa dan saat itu ia sedang berpuasa. Salah seorang pelayannya berkata: “Alangkah baiknya kalau engkau membeli sekerat daging meski­pun satu dirham saja untuk berbuka puasa!” Ia menjawab: “Seandainya engkau katakan hal itu dari tadi, niscaya aku melakukannya.

Dia adalah wanita yang tidak disengsarakan oleh kemiskinan dan tidak dilalaikan oleh kekayaan. Ia selalu menjaga kemuliaan dirinya, sehingga dunia dalam pandangannya adalah rendah nilainya. Datang dan perginya dunia tidaklah dihiraukannya.

Dia adalah sebaik-baik istri yang amat memperhatikan dan memanfaatkan pertemuan langsung dengan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, sehingga dia menguasai berbagai ilmu dan memiliki kefasihan berbicara yang menjadikan dirinya sebagai guru para shahabat dan sebagai rujukan untuk memahami Hadits, sunnah, dan fiqih. Az-Zuhri berkata: “Seandainya ilmu semua wanita disatu­kan, lalu dibandingkan dengan ilmu ‘Aisyah, tentulah ilmu ‘Aisyah lebih utama daripada ilmu mereka.”1

Hisyam bin ‘Urwah meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata: “Sungguh aku telah banyak belajar dari ‘Aisyah. Belum pernah aku melihat seorang pun yang lebih pandai daripada ‘Aisyah tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah diturunkan, hukum fardhu dan sunnah, syair, permasalahan yang ditanyakan kepadanya, hari-hari yang digunakan di tanah Arab, nasab, hukum, serta pengobatan. Aku bertanya kepadanya: ‘Wahai bibi, dari manakah engkau mengetahui ilmu pengobatan?’ ‘Aisyah menjawab: ‘Aku sakit, lalu aku diobati dengan sesuatu; ada orang lain sakit juga diobati dengan sesuatu; dan aku juga mendengar orang banyak, sebagian mereka mengobati sebagian yang lain, sehingga aku mengetahui dan meng­hafalnya. “‘2

Dalam riwayat lain dari A’masy, dari Abu Dhuha dari Masruq, Abud Dhuha berkata: “Kami pernah bertanya kepada Masruq: ‘Apakah ‘Aisyah juga menguasai ilmu faraidh?’ Dia menjawab: ‘Demi Allah, aku pernah melihat para shahabat Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam yang senior biasa bertanya kepada ‘Aisyah tentang faraidh. “‘3

Dengan kecerdasan dan ketajaman ingatannya itu, Aisyah dikenal pula sebagai periwayat hadis Nabi. Catatan dalam Ensiklopedi Islam untuk pelajar mengungkapkan bahwa Aisyah meriwayatkan sekitar 1.210 hadis dan sebanyak 228 di antaranya terdapat dalam hadis Imam Bukhari. Selain itu, Aisyah juga dikenal sebagi wanita yang mampu menyusun kata-kata dan piawai melakukan orasi. Ia pun tak segan untuk bersuara lantang saat di hadapannya ada penyelewengan yang ia anggap tak sesuai dengan Alquran dan Sunah.

Selain memiliki berbagai keutamaan dan kemuliaan, ‘Aisyah juga memiliki kekurangan, yakni memiliki sifat gampang cemburu. Bahkan dia termasuk istri Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam yang paling besar rasa cemburunya. Rasa cemburu memang termasuk sifat pembawaan seorang wanita. Namun demikian, perasaan cemburu yang ada pada ‘Aisyah masih berada dalam batas yang wajar dan selalu mendapat bimbingan dari Nabi, sehingga tidak sampai melampaui batas dan tidak sampai menyakiti istri Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam yang lain.

Selain itu Aisyah adalah wanita yang dibersihkan namanya langsung dari atas langit ketujuh. Dia juga adalah wanita yang telah membuktikan kepada dunia sejak 14 abad yang lalu bahwa seorang wanita memungkinkan untuk lebih pandai daripada kaum laki-laki dalam bidang politik atau strategi perang.

Dalam perjalanan pulang dari medan perang, Aisyah dan rombongan berhenti di suatu tempat. Saat itu, ia keluar dari sekedupnya-semacam ruang yang ditempatkan di atas punggung unta-untuk satu keperluan. Tak lama, ia pun kembali. Namun kemudian, ia merasa kalungnya hilang lalu mencarinya. Sekejap kemudian, rombongan pun berangkat dan menganggap Aisyah telah berada di sekedupnya. Aisyah pun sadar, ia tertinggal rombongan. Dan ia duduk di tempat itu menunggu ada orang yang menjemput. Saat itu muncul sahabat Muhammad, Safwan bin Buattal.

Safwan pun menemukan Aisyah di tempat itu. Maka, ia mempersilakan Aisyah menunggang untanya. Ia sendiri menuntun unta itu hingga sampai di Madinah. Setelah melihat kedatang mereka, maka sejumlah pihak membuat desas-desus adanya hubungan antara Aisyah dan Safwan. Kelompok munafik, kemudian membesar-besarkan berita ini hingga lahirlah sebuah fitnah. Namun kemudian turun Surat An Nur ayat 11-20 yang membantah berita bohong tersebut. Selanjutnya, berita-berita mengenai Aisyah pun luruh.

Mengutip Ensiklopedi Tokoh Islam terbitan Mizan, Aisyah yang lahir pada 614 M di Makkah, menghembuskan nafas terakhirnya pada 13 Juli 678 M atau pada 17 Ramadhan 58 H. pada usia 66 tahun

Sumber: republika.co.id

One thought on “Aisyah Binti Abu Bakar Rodhiallahu ‘Anha

  1. Pingback: muslimah teladan…istri-istri Rasulullah SAW « m.e.t.a.m.o.r.p.h.o.s.e

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s