Idealis tapi realistis

Ketika syuro di kampus, muncul satu bahan diskusi. Tentang Qadhaya assasiyah fii da’wah. Salah satunya menyangkut tarik ulur kader.

Adalah A, seorang aktivis dakwah sekolah, terpaksa harus ditarik di kampus sehingga amanahnya di sekolah harus dilepas. Belum lagi banyak contoh yang lain, sehingga harus dobel amanah atau yg lebih tragis harus mengorbankan amanahnya yg lain.

sampai-sampai, pernah terdengar salah seorang aktivis berkata, “Gimana sih sebenarnya kaderisasi kampus itu? sampai-sampai harus narik kader dari yang lain.Coba kalau misal ana diberi kesempatan konsen ke satu amanah saja.maka tunggulah 1-2 tahun lagi ana akan mencetak kader buat organisasi antum.”

hmm..wah wah
ini nih
masalah lama…

yang astaghfirullah…sangat tidak ahsan sekali dibicarakan. Afwan, sebenarnya saya bukan membangkitkan luka lama. tapi sedikit yang saya garis bawahi adalah pernyataan salah seorang aktivis tadi.

astaghfirullah..mari beristighfar 3 x…

ketika zaman-zaman masih muda dulu, semester 2-3 di kampus tercinta, selalu terframe pemikiran yang idealis..dikit-dikit ingin melawan jika ga sesuai dengan kebenaran & keadilan (ciee…kayak pahlawan aja). knapa beginilah..knapa begitulah..tapi seiring berjalannya waktu dan pengalaman maka idealisme itu melebur…menjadi sesuatu yang paling realistis untuk dilaksanakan.

sedikit bercerita, beberapa waktu yang lalu juga pernah mengalami hal yang serupa…tarik ulur kader.

pertama, saya alami sendiri, sebagai salah satu kader organisasi pusat kampus dan jurusan.
kedua, saya alami ketika menjadi penasehat organisasi (istilahnya dedengkot.orang yg dituakan gitu..).

yang saya ceritakan adalah yang kedua, karena yang pertama adalah keputusan dan tanggung jawab saya pribadi.

ketika tahu junior saya akan direkrut untuk mengemban amanah di wajihah pusat, maka otomatis saya segera bernegosiasi dengan pembesar-pembesar organisasi itu. Seandainya waktu itu saya di posisi mereka, saya akan berkata, “Gimana sih kerja jurusan.masa dari dulu kayak gini terus.kami yang telah mengupgradenya tapi pas kami butuhkan selalu bermasalah di jurusannya.”

tapi subhanallah ternyata tidak seperti pemikiran saya.
karena saudara-saudara saya yang berada di organisasi pusat memahami.
ya, kami memang saling memahami. kami paham bahwa dakwah tidak satu-satunya di organisasi yang kami naungi. tetapi dakwah adalah komprehensif-menyeluruh.coba renungkan, semua kader di pusat asalnya adalah dari jurusan. bila jurusan saja kekurangan kader bagaimana mungkin bisa menyumbang ke pusat?

tapi masalah ga bisa selesai begitu saja dengan adanya saling kesepahaman. akhirnya kita masing-masing harus bergerak..karena dakwah ini akan mengubah dan mengguncang. Itu fitrahnya. kaderisasi ga hanya akan berhenti sampai di sini saja. Halaqah-halaqah kita akan semakin bertambah dan bertambah…belum lagi kenaikan marhalah..kenaikan level. tapi tidak semudah itu…tidak semudah kita yang berteriak, “gimana sih psdm-nya? gimana sih qiyadahnya? gimana sih murrobbi-nya?”

Astaghfirullah…semoga allah menghindarkan kita dari akhlaq muslim yang tercela seperti itu. karena islam sangat membenci berbantah-bantahan.

karena semua itu butuh proses.

mari kita menengok ke perjalanan sejarah tauhid dan pengorbanan

Bumi, yang sekarang dihuni oleh sekitar enam miliar manusia, dahulu hanya dihuni dua orang saja, Adam dan Hawa. Dari Hawa melahirkan 40 pasang manusia. dari tiap pasang itu terbentuk keluarga, kemudian terbangun suku, kabilah, dan bangsa. Dan pada setiap tahapan pertumbuhan itu selalu ada Nabi. Sampailah kita pada periode nabi Nuh yang berdakwah selama 950 tahun. dan hasil dakwah selama itu adalah, bumi ditenggelamkan oleh Allah SWT. Yang tersisa dari manusia hanya 12 pasang. Lalu muncullah keluarga-keluarga baru, Nabi-nabi baru di Timur tengah, wilayah tertua di dunia. Lalu sampailah peradaban manusia pada masa Nabi Ibrahim. Dari nabi Ibrahim dan isterinya, Hajar, putri raja Mesir lahirlah Ismail. Dari Ismail, turun sebelas orang anak. dari sebelas orang anak, turun sebanyak 21 generasi sampai pada generasi yang disebut generasi Adnan. Dari generasi Adnan, turun lagi 21 generasi sampai Rasulullah SAW. Sedangkan garis keturunan Sarah-Ibrahim melahirkan Ishaq yang menurunkan Ya’kub, Yusuf, dst. Sampai berhenti pada Isa A.S. Jarak antara nabi Isa dan Muhammad, tak kurang dari hitungan 600 tahun. dan selama itu tak ada masa kenabian.Dan sesudah Nabi Muhammad tak akan pernah ada lagi seorang nabi.

Ketika Muhammad menjadi Rasul, kira-kira ada 100 juta penduduk bumi. Dan selama 22 tahun, 2 bulan, 22 hari berdakwah, menghasilkan 100-125 ribu pemeluk agama islam. Ini jumlah yang turut berhaji wada’ bersama Rasulullah. Ketika kekhalifahan berada di tangan Ustman Bin Affan, beberapa sahabat telah sampai ke negeri Cina. Dan jika kini kita berislam, itu tak lain adalah karena pengorbanan para sahabat nabi dan ulama. Sehingga saat ini, dari enam miliar penduduk bumi, jumlah umat islam tak kurang dari 1,3 miliar.

Periode yang sangat lama. Tapi terlepas dari itu semua, garis grafik terus meningkat. Jumlah manusia yang mengikuti jalannya (Rasulullah SAW dengan ad-dinul haq) terus bertambah dari waktu ke waktu.

Jadi sangat tidak ahsan sekali (tercela, klo menurut saya) jika kita dengan mudah saling menuding. Kelambatan kaderisasi ini salah siapa?

Seandainya saya bisa menjawab pertanyaan anda, wahai saudara nun jauh di sana, yang dengan pongahnya saling menyalahkan, akan saya jawab: Antum sudah paham Fiqh Dakwah belum?

Pertanyaan selanjutnya: Sebenarnya, apa tujuan kita berafiliasi melalui organisasi islam?

Pertanyaan terakhir: Siapa Antum? Siapa saya?

Maka akan saya jawab sendiri:
1. Kalo tujuan antum berafiliasi adalah untuk membesarkan organisasi dimana antum berada, ya monggo. Ga usah ke mana-mana. Cukup di satu organisasi saja. Entah sampai berapa generasi antum di sana. Sampai antum bisa melahirkan generasi-generasi berikutnya, yang kemudian antum distribusikan sebagai staff dll.

Tapi Saudara-Q…mari kita luruskan niat..
organisasi ini…wajihah ini…adalah salah satu wadah..hanya salah satu sarana
bagi kita untuk menyiarkan islam
membangun syumuliatul islam

2.Siapa Antum? Siapa Saya?
kita hanyalah orang-orang yang dengan sombongnya merasa mampu. Untuk mengemban seluruh amanah
kita hanyalah orang-orang bodoh, yang tidak tahu bahwa amanah itulah yang akan menjerumuskan kita jika melenceng satu senti pun.
kita hanyalah orang-orang munafik, yang saling menuding jika ada kesalahan, tiada sadar setiap ucapan lisan ini akan dipertanggungjawabkan

Ga terima???

Secara tegas saya ungkapkan, kita adalah alat!!!
Ya, memang kita adalah alat.
Klo teman-teman mahasiswa sering meneriakkan kata-kata merdeka, bebas dari segala bentuk penjajahan, pembonekaan manusia. Dalam hati saya tersenyum…

teringat lantunan sebuah nasyid

kami adalah panah-panah terbujur yang siap dilepaskan dari busur
tujuh sasaran siapa pun pemanahnya

kami adalah pedang-pedang terhunus
yang siap terayun menebas musuh
tiada peduli siapapun pemegangnya

kami adalah tombak-tombak berjajar
yang siap dilontarkan dan membucah
menembus dada lantarkan keangkuhan

kami adalah butir-butir peluru
yang siap ditembakkan dan melaju
dan mengoyak melubang kezaliman

kami adalah mata pena yang tajam
yang siap menuliskan kebenaran
tanpa ragu ungkapkan keadilan

kami pisau belati yang slalu tajam
bak kesabaran yang tak pernah padam
tuk arungi dakwah ini jalan panjang

(Tekad-Izzatul Islam)

Kalaulah memang benar kita harus lepas dari penjajahan manusia, maka sungguh fitrahnya kita tak akan bisa lepas dari tali agama Allah. se-atheis-atheisnya kita!

ya benar kita di sini hanyalah sebuah anak panah. Yang ketika ditembakkan ke sasaran dan melenceng, masih ada anak panah yang lain. Jadi apalah kita, klo sampai kluar ucapan,”Gimana jadinya organisasi ini kalau ga ada saya?”

Istighfar Bung!

ini adalah awal kesombongan..ketika amanah dimaknai sebagai karir dakwah. Ketika kita merasa penting.

karena kita hanyalah anak panah.
tapi ingat
sekali anak panah itu menancap ke sasaran,
dia akan membuat bekas
dan itulah kita
sedang membuat goresan-goresan sejarah
sejarah kebangkitan umat
apakah itu dengan tinta hitam, emas, atau perak

So sebelum kita menuding marilah kita mengaca dulu…
apakah idealisme yang kita lontarkan realistis untuk dilaksanakan?
Kalaulah tidak, buat apa hanya berdengung-dengung tanpa berbuat
karena Allah sangat membenci perkataan tanpa perbuatan…

Sedikit ulasan tentang beratnya mengkader seorang mahasiswa
karena strata mahasiswa berbeda dengan level pendidikan yang lain
karena saat-saat ketika menjadi mahasiswa adalah saat untuk berpikir sekaligus bergerak
tapi kita semua sedang membasuhnya ulang
dengan celupan warna Illahi
kita sedang merenovasi
pondasi-pondasi yang kuat tapi tiada berpunya tiang dan atap
bukan menghancurleburkan dan membangunnya dari awal
Jadi, Sungguh, seharusnya kita memuji para pejuang-pejuang kaderisasi kampus
yang dengan pengorbanannya..walau hasilnya tak sesuai bayangan
tapi grafik akan selalu menanjak
walau merambat
walau tertatih-tatih
karena kita hanya bisa berikhtiar…
dan berkorban…
bukan hanya berkata-kata…
atau saling menyalahkan..

Allahu a’lam bis showab

One thought on “Idealis tapi realistis

  1. Sepakat…sepakat. Betapa susahnya memang kalo sudah menyangkut kaderisasi. Bisa dibuat diet alami. He..He…
    Tapi masalahnya seringkali yg di pust sono, sering ga ngasih tau ke jurusan kalo salah satu kadernya diambil. Walhasil di jurusan adem ayem saja mengambil dia sbg penerus. Lha pas bareng2 pergantian baru ketahuan kalo dua2nya memang menginginkan kader itu. Yg di jurusan jg salah krn dia kok g up date gitu. Di puast jg kok ya gak bilang2….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s