Kader ‘manja’

Setelah membaca bloG temen tentang militansi yang menurun (thanks ka..postingannya best!)..dan dalam hati mengiyakan karena sudah melihat bukti konkretnya secara -audiovisual- dengan mata kepala telinga sendiri sigh –> bahkan bisa jadi penulis pun termasuk di dalamnya. Naudzubillah…cry


Militansi yang menurun, klo dirunut dan dilihat hubungan kausalnya ada beberapa penyebab:
1. Pergaulan
–> ini nih biasanya marak di kalangan kader sejak zaman bahela. Munculnya vmj, hts, dan konco-konconya
dapat dilihat secara nyata dengan banyaknya kader bertitel ikhwan-akhwat, jilbaber dan kokoer yang berkhalwat, boncengan motor, dan istilah-istilah lain sejenisnya -__-. Dengan semakin banyaknya contoh nyata ini, upaya pembenaran pun semakin meluas. ungkapan: ‘halah mbak itu lo juga pacaran, knapa qt tidak?’ semakin meluas. Beberapa yang kecewa melihatnya, mundur dari barisan. Beberapa yang menentang hanya bisa mengelus dada dan memanjatkan doa kepada Allah SWt untuk memberikan petunjuk kepada ke-2 korban degreadasi zaman tersebut.

[weleh..dulu takpikir crita ini hanya ada di buku, tapi belakangan smakin parah…sigh2]
~ya Rabb jauhkan hamba dari fitnah-fitnah yang bertebaran di muka bumi…

semoga para murrobbi-murrobbi diberikan kekuatan dan keteguhan hati untuk mengembalikan kemurnian dakwah…

2. Terlena akan kemudahan dan nikmat dunia
Ini yang paling bikin nangis [versi penulis]
Klo vmj, sudah jelas akar permasalahannya, kalo yang ini lebih kabur lagi -__-

pernah dalam suatu kepanitiaan mabit Ramadhan, ketika syuro kepanitiaan akhwat pada tengah malam untuk merumuskan persiapan muhasabah shubuh dan kegiatan paginya, beberapa akhwat nyeletuk:
‘ayo, sudah ngantuk nih. sudahlah seadanya saja…’
Astaghfirullahaladzim…
kalo lah waktu itu na sebagai mas’ul pasti na tegur yang bersangkutan.
Tapi berhubung hanya sebagai PJ salah satu kegiatan, hanya bisa mengelus dada dan menangis dalam hati
teringat saat-saat menyiapkan agenda dauroh dan mabit kampus, seluruh kepanitiaan akhwat memberikan ‘the finest effort’…kami bersungguh-sungguh karena generasi pemegang estafet dakwah ada di tangan dan siap dipoles

tidak ada yang mengeluhkan capek, ngantuk, dll. semua bahu membahu…

Rabbi….zaman tlah berubah

Di tengah berbagai kemudahan, dana, fasilitas dll muncul hambatan lain: kader yang ‘manja’

“Aduh panas ukh,”
“Aduh, capek ukh”
“Afwan ukh, ana pengen istirahat di rumah”
“Malas ukh, jauh”
stop..stop…stop..jauhkan keluhan-keluhan itu
ttp

Jadi rindu pada pada dakwah yang terstruktur…
iqob dan kedisiplinan dijalankan di dalamnya…
penuh loyalitas dan militansi kader-kadernya…

~terbayang kembali kilas perjuangan dakwah kampus
dimana rela berpanas-panas dan di bawah gerimis berorasi di depan grahadi
membelah surabaya dan mengejar waktu untuk menghadiri dauroh, JR, dan berbagai kegiatan kampus
ngebut bersepeda supaya tidak telat liqo
jalan setengah lari supaya tidak kena iqob telat syuro
bolos kuliah untuk jaga shift kepanitiaan, dll

I miss myself at that time…I miss you all, Ti…and tired to struggle and fight by myself
Di mana jiwa pasukan gagah berani? -izis-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s