Islam and Me, Me and Islam

[WARNING: THIS ARTICLE IS NOT SINGLING A PARTICULAR PERSON, GROUP, NOR RELIGION (PERINGATAN: ARTIKEL INI TIDAK DIMAKSUDKAN PADA ORANG, KELOMPOK, ATAU AGAMA TERTENTU)]

Hari ini, tiba-tiba keinginan untuk menulis di blog mengalahkan segalanya.

Kedua kalinya. Kedua kalinya perasaan seperti ditampar dengan keras itu muncul. Tamparan pada jati diri sebagai seorang muslim. Tamparan keras terhadap frasa “Wasyhad ana bil muslimun”

Saksikan bahwa aku seorang muslim

Terbuka link sebuah video you tube yang berisi berita mengenai protes komunitas mahasiswa muslim di sebuah universitas katolik di Amrik untuk menghilangkan simbolisasi Jesus di kelas (link tidak akan dicantumkan). Link tersebut diupload oleh seorang kenalan dari negeri Paman Sam dengan title quote “Yet Quran (muslim’s bible) is allowed in our school, our Holy bible isn’t”.

Jleb.

Satu kata terucap lirih di hati.

Astaghfirullah…

Tapi mengapa aku beristighfar setelah melihat artikel itu?

Ada rasa sakit.
Ada rasa sakit di ulu hati melihat komen-komen di video tersebut yang notabene sebagian besar adalah ejekan terhadap Islam dan pemeluknya (muslim).

Mungkin anda, orang rasionalis akan berkata “Kenapa ga pindah sekolah saja?”

Aku tahu. Aku tahu tentang pertanyaan retorikal itu. Aku tahu. 100% Paham mengenai maksudnya.
Tapi aku hanya terdiam.

Rasa sakit itu bertalu-talu. Memenuhi kepala dan apa yang tersembuny di balik rusukku. Sesak.

Teringat kembali pertemuan dengan “lecturer” di tempat kursus Inggris yang adalah seorang bule dengan keyakinan agnostik (read: percaya Tuhan tapi tidak memeluk agama tertentu sebagai keyakinan). Beliau bercerita mengenai opininya tentang Islam, yang mencuat saat salah seorang teman menyebutkan muslim pada sesi speaking saat itu.

Tamparan pertama.

“Have you ever seen the video about how a group of muslim attacked and killed Ahmadiyah people? My opinion, that’s bullshit. That made me got a wrong idea about Islam, and your country, guys. I mean why do people just stay calm and ignorance? What’s wrong with you? Why didn’t tell the public they are not your brothers. They are not muslims. They’re just murderers. I know, I am even better than them eventhough I’m an agnostic. Cause I don’t kill people. Well, religion is religion. That’s your damn own business with your God. The matter is how our life as a part of human being. IDGAF.”

(not exactly the direct quote, but similar like what he has said).

Aq terdiam saat itu. Hanya bisa tertunduk lemas. Dan rasa ingin menangis karena tidak bisa membela Islam itu muncul. I know-I know , I’m a melo-kind person.

Seperti saat ini. Saat kedua kalinya tertampar.

Dear guys, mister or whoever you are,

Inti persoalannya bukan siapa yang salah siapa yang benar. Bukan, bukan itu yang kuharapkan sebagai jawaban. Itu akan berujung ke debat kusir yang panjang dengan rentetan sejarah kelam Islam sebagai main topiknya. Bukan. Bukan itu.

Yang ada, malu.
Malu sebagai seorang muslim yang hanya bisa terdiam dengan realitas nama Islam yang tercoreng-moreng. Mungkin saat ini, kita begitu disibukkan dengan memikirkan hari ini melakukan apa, hari ini makan apa, sementara kita tidak sadar ada bagian yang sedikit demi sedikit tercabik-cabik di depan kita.

Marah. Bukan pada subscriber You Tube dengan seribu ejekannya terhadap Islam dan umat muslim (eh mungkin sedikit rasa sakit-Astaghfirullah…). Atau pada reporter dan beritu yang cenderung menyudutkan umat muslim. Atau pada mahasiswa muslim yang mengajukan protes itu. Atau pada “lecturer” kursus Inggris dengan statement-nya yang agak pedas.
Bukan. Bukan pada mereka. Tapi marah pada diri sendiri. Seandainya ada secuil keberanian yang meluluhlantakkan sisi plegmatis dari diriku, aku pasti akan menjawab guru bahasa Inggrisku itu,

“I won’t ever be able to deny that those people you have mentioned is muslim. Indeed, they’re still my brothers and sisters regardless how evil those in your eyes. But as human being, everyone surely has a tendency to make mistakes, without mentioning what religion they believed. And we, as a part of human don’t have a right of judgement who is right or wrong unless it’s stated under law-formally. Because we may did the worse thing than the, even a little. If you pointed Islam in bad marks because of its adherent’s behaviour, it’s unfair seeing the others also did a bad part in world history. So please, don’t judge Islam partially from its cover.”

If only,
mungkin aku malah akan ceramah mengenai kebesaran Islam di masa lalu dan akan menghabiskan hari itu dengan debat panjang yang tak berujung.

Teringat saat pertama kali diterima kerja. Sebagai seorang muslimah yang pernah super-aktif di kampus, selalu ada idealisme yang terpatri.

Bahwa aku akan menjadi agen muslim yang baik. Akan kutunjukkan bahwa Islam itu rahmatan lil alamin.

Dan benar, perjuangan itu, senantiasa diiringi dengan doa dan airmata.

Maka di sinilah aku mencurahkan semua isi hati. Agar idealisme itu tetap ada. Terjaga dan terikat melalui coretan-coretan ini. Hingga pada saatnya nanti, aku akan menangis kembali. Tentang kontribusi apa yang telah kupersembahkan untuk Islam dan dunia. Hingga aku, dengan bangga akan berkata pada dunia.

I am A Muslim

Ix-nay mister, Nix. Islam is not only my religion. It’s not only about how a person pray to his/her God, reading our holy Quran. No. It’s the way of my life. How i was started and how I will be ended in this world. That’s all.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s