Di Doa Mereka Kudengar Ada Namaku Disebut

Dalam setiap langkah perjalanan hidup kita, senantiasa ada doa-doa yang memberikan kejutan keajaiban. Ketika kita membuka mata di pagi hari, syukur kita ucapkan atas dibangunkannya kita kembali di waktu fajar itu. Ketika kita melangkah keluar rumah, terucap doa keselamatan. Dan siklus akan ditutup dengan doa ketika kita akan dimatikan kembali dalam tidur kita. Dan tanpa kita sadari, ada doa-doa yang menyelimuti kita, bukan hanya dengan kebaikan, perlindungan, dan keselamatan, tapi sebagai percikan pelajaran hidup bagi manusia.

Aku ingat saat pertama kali meminta ibu untuk mendoakan keberhasilanku. Itu adalah masa-masa pengerjaan Tugas Akhir aka TA di tahun terakhirku kuliah. Sebelumnya,tidak pernah mulutku mengatakan hal itu secara langsung. Aku bukan tipe eksplisit, seperti ibuku. Dan saat itupun aku mengatakan dengan getir,

“Bu, dungakno nggih..” (read: “Bu doakan ya…”)

Simple. Ga ada detail khusus mengenai apa isi doanya. Tapi ibu selalu menjawab,

“Yo, nduk.” (read: Ya, Nak)

Aku akui, itu adalah masa-masa tersulitku. Saat aku dihadapkan dengan kenyataan bahwa metode yang kugunakan di penelitian skripsiku mis-interpreted (read: salah persepsi) dari paper acuan. Dan hanya ada tiga bulan tersisa untuk meng-coding ulang dan menyelesaikan buku.

Sungguh, aku bukan tergolong anak yang cerdas. Rentetan peringkat pertama yang kuraih sejak kelas 3 SD – SMP – SMA adalah berkat peluh kerja keras dan kuasa-Nya. Ayah, Ibu, dan orang-orang di sekitarku selalu melihatku jauh lebih tinggi. Anak pinter, itu kata mereka – plus ditambah bumbu dari ibu-ibu tetangga yang senantiasa memuji dan membandingkan anak-anaknya. Jadi ketika aku diterima di sebuah universitas beken di Surabaya, jurusan Teknik Informatika adalah hal yang wajar menurut mereka. Begitupun tanggapan guru dan peserta LBB tempat aku belajar. Siswa favorit, kata mereka, yang selalu dipanggil ke depan kelas untuk menyelesaikan triks matematika, fisika, dan kimia – pelajaran momok bagi rata-rata siswa sekolah. Aku tidak tahu, sungguh aku sama sekali tidak menganggapnya. Bahkan, ketika nilai UANku berada di bawah teman yang telah kukasih contekan, (terulang lagi dari SMP dan SMU) aku hanya bisa diam tersenyum. Siapalah aku di hadapan kuasaNya.

It’s okay, dunia tidak hanya berisi mengenai nilai dan peringkatmu selama di sekolah, atau tanggapan orang-orang lain. Manusia kebanyakan hanya melihat hasil, bukan proses. Dan kebanyakan dari mereka yang memujiku, tidak pernah melihat betapa kerasnya proses untuk mendapat tangga teratas itu atau bahkan untuk nilai matematika 10 di rapor. Percaya ndak percaya aku pernah ngedapatin tuh nilai nongol di rapor pas SMP. Sekali doang.

Dan sampailah aku di kampus perjuangan, ITS Surabaya.
Dan aku hampir-hampir senang, karena aku bukanlah anak yang diistimewakan lagi di kelas atau dianggap paling pinter (hehe-peace). Di kampus, bisa dibilang aku merasa minder. Bagaimana tidak, 20 teman satu angkatanku berasal dari SMA unggulan dan terfavorit di Surabaya, SMUN 5 Surabaya. Dan beberapa kumpulan dari SMA favorit Malang dan plus beberapa daerah yang lain yang ga akan sanggup disebutin satu-satu. Akhirnya, belenggu murid paling pintar di kelas terkikis (:D). Aku tidak sedih, tidak pula senang. Lah, namanya manusia, pembuktian diri itu pasti ada lah ya…

Dan ideologi mahasiswa pun meracuniku sedikit demi sedikit. Aku, yang pada dasarnya pemalu, plus ga bisa ngomong di depan umum dan kadang malu-maluin (deeh) mulai mengikuti beberapa organisasi kampus, ditunjuk jadi koordinator dan lain-lain yang menguras perhatianku dari tujuan utama aku kuliah, belajar dan setidaknya dapat IP yang membanggakan. Tapi di luar semua itu, Alhamdulillah aku  yang berotak pas-pasan  ini , yang sering telat/bolos kuliah karena harus jaga stand LDK atau syuro di masjid, dapat melewati semester demi semester dengan IP yang lumayan.

Aku tidak pintar-pintar amat. Kemampuan codingku nol saat menjejakkan kakiku di ruang lab pemrograman. Aku tidak punya komputer aka PC apalagi laptop. Satu-satunya alasan saat memilih jurusan Informatika di kertas formulir SPMB adalah : aku tidak suka Fisika (loh?).

Nah ada macam-macam ujian, cobaan, rintangan entah apa namanya dan aku merasa kelulusanku bukanlah dari hasil belajarku semalam suntuk, ataupun tidak tidur sampai pagi dini hari dan langsung berangkat ke tempat ujian SPMB.

First of all, Kertas pengisian formulir pilihan studi SPMB-ku robek sedikit saat aku dalam perjalanan di angkot untuk mengumpulkannya.

Aku tidak berharap banyak dan hanya bisa tersenyum saat orang menanyakan mengenai ujian itu. Tentu, aku sudah berusaha maksimal. Hasilnya? hanya Allah Yang Maha Kuasa.

Dan aku diterima.

Itulah saat pertama kalinya aku mulai paham tentang kekuatan doa. Boleh jadi, keberhasilanku itu adalah doa-doa Ibu, Bapak, Eyang Kakung, Bu Dhe, Bu Lek, Pak Lek, Tante, Om dll di antara sholat-sholat mereka. Boleh jadi, itu adalah surat balasan Allah tiap kali Ibu-Bapakku menyebut namaku di dalam doa-doa mereka.

Pun saat aku kuliah. Saat bapak harus menjual sebuah pohon jati untuk membelikanku komputer. Bapak hanyalah guru SMA. Rumah kecil kami yang sederhana adalah salah satu bukti bahwa, Bapak tidak seperti anggota DPRD lainnya saat ini – saat beliau masih memangku jabatan wakil rakyat, tidak bergelimang dengan harta. Aku ingat, bagaimana aku hanya tersenyum ketika guru SD-ku menyebut-nyebut status Bapak sebagai anggota DPRD di depan kelas. Dan sebenarnya, doa-doa itulah – bukan jabatan, kuasa, maupun harta yang berhasil mengantarkan anak seorang guru untuk mengenyam bangku kuliah dan lulus tepat 4 tahun.

Semester 1: IPku 3,61
Aku tidak tahu bagaimana angka itu muncul di lembar reportku yang terpampang di layar PC Laboratorium. Kaget, sudah pasti. Lah, diriku ngoding saja ndak bisa. Ujian pemrogramanku menghasilkan segebok error di layar hitam yang kutinggalkan dengan kecewa dan putus asa saat jam ujian usai. Dan nilaiku? A
Linglung, bingung, aku dengan polosnya memberanikan diri bertanya ke dosenku:
“Pak, saya dapat A ya? apa tidak salah pak? program saya banyak errornya pak.”
“Yang dinilai struktur programnya, bukan hasilnya, Tita.” jawab dosenku singkat.
Masya Allah, weird. tapi Allah selalu menolongku dengan kejutan-kejutan dan keajaiban.

Mulai membangkang,
Aku pergi tanpa ijin mengikuti FSNAS di Lampung. Percaya (?) Itu dengan bantuan dari seorang saudari tercinta di kampus. Ibuku marah, dan mengatakan tidak akan memberi uang saku plus tidak akan menganggapku anak jika aku tetap pergi. Sedih luar biasa. Aku paham, kemarahan ibuku  dikarenakan aku terlalu fokus di kegiatan kampus dan melupakan tugas utamaku. Padahal Ibu-Bapak bekerja keras untuk membiayai kuliahku. Selama kuliah, aku juga mencari tambahan uang saku dengan mengajar les anak SMP dan SMA. Aku menyakiti mereka, tapi ideologi mahasiswaku mengalahkan segalanya. Aku berangkat ke Lampung dengan beban di hati walaupun aku mendapat seribu pengalaman dan sahabat baru di sana. Seorang saudaraku , sahabat satu kampus meminjamkan uang 250rb tanpa syarat dan aku pun berangkat. Di sana, di luar kegiatan dan agenda syuro rutin yang harus kami jalani,  tiap malam aku menangis. Aku ingat kata-kata ibuku di dalam doa dan sholatku. Lima hari kemudian, ibu menelpon. Betapa senangnya diriku karena ibu telah memaafkanku.

Kasih ibu, sepanjang masa…

IPku sudah pasti terjun dari semester awal ke semester akhir. Kebanyakan temanku adalah kebalikannya, tentunya. Yah, inilah salah satu akibat dari menyepelekan kuliah, apalagi dengan otak yang pas-pasan. Namun, bersyukur aku masih dapat lulus dengan IP di atas 3. Doa, pasti salah satu alasannya.

Aku menangis di hadapan tim penguji setelah selesai sidang. Haha, kalau diingat-ingat lagi aku ini malu-maluin banget ya. Tapi itu adalah salah satu momen yang sangat sakral bagiku. Salah satu dosen penguji bahkan hampir tertawa membaca panjangnya daftar ucapan terima kasih di Buku TA-ku. Hampir tiga lembar! dari bapak-ibu (ga sampai buyut kok), teman se-kosan, orang LDJ, LDK, sampai adik-adik binaanku.

Mencari pekerjaan, Agustus-September 2008
Usai sidang, sambil menunggu wisuda, sudah pasti kewajibanku selanjutnya adalah berusaha mendapatkan pekerjaan. Dua adikku memasuki bangku kuliah, dan tugas utamaku adalah membantu Ibu-Bapak dan setidaknya membalas sedikit jasa mereka. Lagian, Aku juga sudah capek sekolah (haha-ntar pas bekerja, ingin sekolah lagi). Mendaftarlah aku ke berbagai lowongan pekerjaan di Student Center ITS. Salah satunya adalah proyek KomInfo di Batam. Aku diterima, dan berangkat sehari setelah wisuda. Dwenk, belum sempat puas peluk-pelukan sama teman-teman seperjuangan, aku dilarikan pulang untuk packing dsb. Bapak-Ibu so pasti sedih kutinggal merantau ke pulau seberang. Tapi toh aku akan pulang saat liburan walau ga bisa sering-sering karena harga tiketnya mencekik jiwa. Kenangan yang kuingat sebelum diterima kerja di sana adalah sesi wawancara. Pas ditanya mengenai pengetahuanku tentang institusi yang aku lamar, dengan bodohnya aku bilang itu institusi di bawah binaan kominfo. Nol Besar (kok bisa diterima ya?). Padahal kalau aku menggunakan jariku untuk mengetik Otorita Batam di mbah Google harusnya aku tahu itu bagian dari pemerintah kota dengan adanya embel-embel domain *.go.id.

Batam, Oktober 2008.
Batam hujan, saat 14 fresh graduated-ers menginjakkan kaki ke bandaranya. Nah, hujan adalah berkah dan waktu yang mustajab untuk berdoa. Setuju?
Allaahumma shoyyiban naafi’aa. “Ya Allah, jadikanlah ini hujan yang bermanfaat.”
Kami diterima untuk membantu mengerjakan  proyek e-Government kerja sama Indonesia-Korea. Dan so pasti paklek-paklek developer Korea itu ndak bisa bahasa Indonesia. Komunikasi dengan mereka sehari-hari harus dengan bahasa Inggris. Lucunya karena bahasa Inggris kita itu sama-sama grotal-gratul (read. far for from fluency alias ga lancar), so kadang bahasa tarzan jadi alternatif (:D).

Seoul, Korea November 2008.
Dulu, aku ga pernah ngebayangin bagaimana rasanya naik pesawat. Mimpi anak udik dari desa. Tapi akhirnya mimpi itu terbayar dengan merantaunya anak udik ini ke Batam. Lalu? Boro-boro mimpi terbang ke Korea. Saat diumumkan bahwa pihak kantor akan menyeleksi 8 orang dari 20 orang untuk dikirim sebagai peserta fellowship training, aku ga berharap banyak. Dan aku lolos lagi. Dan orang udik ini pun menginjakkan kaki di Changi dan Incheon airport yang super megah.

Dan aku menyadari, Allah itu sangat sayang padaku, dengan banyaknya kejutan-kejutan di dalam hidupku.

Dan apa balasan wujud terima kasihku kepadanya Sang Pemberi Nikmat? Apa yang sanggup aku berikan sebagai gantinya? Aku terus berdoa dan berdoa tapi apa yang kupakai untuk bekal doaku itu?

Aku sudah resign dan kembali ke pulau Jawa tercinta. Dan coba tebak? Kekuatan doa itu muncul lagi.

Dua bulan sebelum masa resign-ku, ada rekruitmen dari Ristek, BPPT, dan LIPI yang diingatkan oleh adikku. Aku ogah-ogahan. Maklum, imej tentang bekerja di institusi pemerintahan sudah kualami dan menjadikanku hampir kapok. Tapi aku pun luruh juga, mereview ulasan mengenai LIPI karena sudah telat untuk pengumpulan formulir dua institusi lainnya. Aku teringat kembali saat SMA, saat karya tulis ilmiah kami lolos dan menjadi tim juara 2 di LIPI Pusat. Nah loh,  kok sepertinya takdir menghubungkan aku dengan lembaga ini ya?

Dan aku diterima. Salah satu dari 117 orang dari 1500 pendaftar (kalau ndak salah, maklum lupa totalnya :P) Kenangan yang paling berkesan selama proses mendapatkan status cpns LIPI itu ada dua:

1. Saat hari H ujian.
Aku salah naik bus trans dari BSD Tangerang.
Kalau digambarkan dengan film kartun, bus yang seharusnya kutumpangi belok ke kanan sedang aku berada di bus lain yang belok kiri. Ternyata, Allah mengujiku waktu itu.
Panik, pengen nangis tapi ga ada waktu untuk penyesalan atas kecerobohan. Lagian masak nangis di dalam bis. Pak sopirnya menurunkanku di depan Stasiun Kota dan aku pun melanjutkan perjalanan dengan busway – Trans jakarta. 15 menit sebelum ujian dimulai. Jam sudah menunjuk hampir lewat sepuluh dari waktu ujian ketika aku sampai di shuttle tujuan, aku lari dan menyerbu ojek untuk langsung masuk ke Gelora Bung Karno. Alhamdulillah, aku diijinkan masuk. 5 Menit kemudian pintu ditutup dan tidak ada yang boleh masuk setelah itu. Bayangkan betapa bersyukurnya aku.

2. Tahap akhir pemberkasan.
Aku belum punya SKCK. Kesalahan terjadi saat ibuku salah tangkap dan bilang dokumen sudah ada dan siap dikirim. Aku agak mewek (read. nangis), yah wajar lah. Bolak-balik Batam-Jakarta-Batam 2 kali untuk ujian tulis, psikotes, dan wawancara – apa semua itu sia-sia belaka hanya karena satu berkas tidak ada? Puji syukur, Allah menolongku untuk ke sekian kalinya. Kali ini lewat tanteku di Tangerang. Satu-satunya yang kusedihkan dari tanteku ini adalah beliau sholatnya bolong-bolong atau bisa dibilang dua kali setahun – karakter orang ibu kota yang jauh dari agama. Tapi saat itu, tanteku tersayang ini, menembus derasnya hujan dengan motor MIO-nya bersama sepupuku yang kelas 6 SD ke polsek terdekat untuk memohon bantuan. Hari itu Sabtu, aku masih ingat. Pesawatku berangkat bada ashar dan sesampainya di Soetta aku ngojek untuk mengejar waktu. Semoga Allah membalas kebaikan tanteku dan pak polisi yang membantuku saat itu. Doa-doa kupanjatkan untuk mereka. Atau setidaknya agar Tante dapat hidayah, plus kalau bisa berhijab. Amin.

Oh ya, ada secuplik kisah tentang tanteku ini dan doa, sumber adalah dari Ibuku sendiri. Saat tante sekeluarga ziarah ke makam Yang Kung (Eyang Kakung) di dekat rumah Ramadhan kemarin, Tante tiba-tiba nyeletuk,
“Mbak, nanti kalau aku mati, dikubur di sini saja ya?”
“Lapo Yun?”, Ibu bertanya (read, Lapo=Mengapa)
“Supaya ada yang mendoakan,” jawab Si tante singkat.
Ya, doa pun, ternyata adalah bekal kita saat kita sudah di alam kubur. Saat tiada lagi kesempatan untuk menambah amal, bekal yaumil mizan.

Sudah lihat percikan keajaiban dari seucap nama dalam doa?
Aku, mungkin, sudah. Beribu kali dalam hidupku. Mungkin, sebagian besar tidak kusadari.
Maka sejak itu, aku tidak ragu lagi bila menelpon ibuku dan menutup dengan,

“Bu, dungakno nggih..”
apapun itu. Karena doa keduanya adalah salah satu kekuatanku. Doa keduanya adalah pengantar cinta Rabb kepadaku. Dan pun ketika aku berdoa untuk kedua terkasih ini, dan orang-orang tercinta di dunia – yang mewarnai bumi ini dengan pelangi kebajikannya. Yang memberi contoh nyata akhlaq muslim sejati. Yang memberi seribu pelajaran hidup. Semoga kami semua dipertemukan dalam jannah-Mu. Amin Ya Rabbal Alamin.

*teruntuk sahabatku yang sedang membutuhkan doa. Muliakanlah kedua orang tuamu dan saudaramu muslim se-aqidah. Niscaya cinta Rabb-mu akan sampai kepadamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s